Assalamu'alaikum wr.wb
Alhamdulilah Saya
bisa share tentang AL HABIB SYECH ABDUL QODIR ASSEGAF yang mana disini
bisa menjadikan wadah / tempat yang bermanfaat bagi bangsa dan agama..
Serta ummat Mohammad Shollallohu 'alaihi wa sallam.
Jadikan diri kalian contoh kebaikan bagi yg lain.
Ambillah manfaat pada setiap kejadian.
Jangan merasa diri kalian lebih baik dari yg lain.
Kesalahan yang di barengi dengan penyesalan
lebih baik... dari pada
kebaikan yang di barengi dengan kesombongan.
Harta yang ada pada kita bukanlah milik kita.
Sesungguhnya milik kita adalah yang kita keluarkan di jalan Allah.
Perbanyaklah bekal untuk menyongsong hari esok.
Akhlaq kalian adalah senjata kalian...
" GEMBIRAKANLAH ROSULULLAH...
DENGAN AMAL DAN AKHLAQ KALIAN,
SEBAGAIMANA ROSULULLAH MEMBELA KALIAN ".
وافتح من الخير كلّ مغلق -oOo- يا ربّ صلّ على محمد
MENGENAL HABIB SYECH ABDUL QODIR ASSEGAF
Habib Syech bin Abdulkadir Assegaf adalah salah satu putra dari
16 bersaudara putra-putri Alm.Al-Habib Abdulkadir bin Abdurrahman
Assegaf ( tokoh alim dan imam Masjid Jami' Asegaf di Pasar Kliwon Solo),
berawal dari pendidikan yang diberikan oleh guru besarnya yang
sekaligus ayah handa tercinta, Habib Syech mendalami ajaran agama dan
Ahlaq leluhurnya. Berlanjut sambung pendidikan tersebut oleh paman
beliau Alm. Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf yang datang dari
Hadramaout. Habib Syech juga mendapat pendidikan, dukungan penuh dan
perhatian dari Alm. Al-Imam, Al-Arifbillah, Al-Habib Muhammad Anis bin
Alwiy Al-Habsyi (Imam Masjid Riyadh dan pemegang magom Al-Habsyi).
Berkat segala bimbingan, nasehat, serta kesabaranya, Habib Syech bin
Abdulkadir Assegaf menapaki hari untuk senantiasa melakukan syiar cinta
Rosull yang diawali dari Kota Solo. Waktu demi waktu berjalan mengiringi
syiar cinta Rosullnya, tanpa di sadari banyak umat yang tertarik dan
mengikuti majelisnya, hingga saat ini telah ada ribuan jama'ah yang
tergabung dalam Ahbabul Musthofa. Mereka mengikuti dan mendalami tetang
pentingnya Cinta kepada Rosull SAW dalam kehidupan ini.
AHBA'ABUL MUSTHOFA
Ahbabul Musthofa, adalah salah satu dari beberapa majelis yang
ada untuk mempermudah umat dalam memahami dan mentauladani Rosull SAW,
berdiri sekitar Tahun1998 di kota Solo, tepatnya Kampung Mertodranan,
berawal dari majelis Rotibul Haddad dan Burdah serta maulid Simthut
Duror Habib Syech bin Abdulkadir Assegaf memulai langkahnya untuk
mengajak ummat dan dirinya dalam membesarkan rasa cinta kepada junjungan
kita nabi besar Muhammad SAW .
ADAPUN GOUP AHBA'ABUL MUSTHOFA DI FACEBOOK :
Group Facebook Cabang "AHBAABUL MUSTHOFA" :
================================
1. AHBAABUL MUSTHOFA YOGYAKARTA
2. AHBAABUL MUSTHOFA SRAGEN
3. AHBAABUL MUSTHOFA PURWODADI
4. AHBAABUL MUSTHOFA KUDUS
5. AHBAABUL MUSTHOFA JEPARA
6. AHBAABUL MUSTHOFA SEMARANG
7. AHBAABUL MUSTHOFA WONOSOBO
8. AHBAABUL MUSTHOFA PURWOREJO
9.UNTUK DAERAH LAIN SEDANG DI PROSES.......
KEGIATAN AHBABUL MUSTHOFA :
Pengajian Rutin (zikir & sholawat) setiap hari Rabu Malam dan
Sabtu Malam Ba'da Isyak di Kediaman Habib Syech bin Abdulkadir Assegaf .
Pengajian Rutin Selapanan Ahbabul Musthofa
- Purwodadi ( Malam Sabtu Kliwon ) di Masjid Agung Baitul Makmur Purwodadi.
- Kudus ( Malam Rabu Pahing ) di Halaman Masjid Agung Kudus.
- Jepara ( Malam Sabtu Legi ) di Halaman Masjid Agung Jepara .
- Sragen ( Malam Minggu Pahing ) di Masjid Assakinah, Puro Asri, Sragen.
- Jogja ( Malam Jum'at Pahing ) di Halaman PP. Minhajuttamyiz, Timoho, di belakang Kampus IAIN.
- Solo ( Malam Minggu Legi ) di Halaman Mesjid Agung Surakarta.
BIOGRAPHY HABIB SYECH BIN ABDULKADIR ASSEGAF
Habib Syech bin Abdulkadir Assegaf was born in Solo city, Indonesia.
When he was young he was the ‘muazzin’ for the Assegaf Mosque in Solo.
At times, he read the Qasidah at Masjid Riyadh with the late Habib Anis
Al Habsyi. He regularly led the singing and reading of Qasidah and
‘Sholawat’ with Majlis of Ahbaabul Mushthofa with the various Wirid such
as Ratib Al Attas, the Diwan and ‘Sholawat’ of Habib Ali Al-Habsyi and
the Diwan and Qasidah of the famous Imam Abdullah Al Haddad
Panggilan Habib atau Sayyid, Syarif
dan lain-lain merupakan panggilan yang sering kita dengar untuk sebutan
keturunan Rasululalh saw. Sebagian masyarakat menggunakan panggilan
ini dan sebagian lain tidak. Ada juga yang tidak mengakui keturunan
Rasulullah saw namun ada yang tidak. Berikut adalah pendapat Prof. Dr.
Hamka dalam menerangkan masalah Gelar Sayid atau Habib yang cukup
bijaksana.
H. Rifai, seorang Indonesia beragama Islam yang tinggal di Florijin
211 Amsterdam, Nederland, pada tanggal 30 Desember 1974 telah mengirim
surat kepada Menteri Agama H.A. Mukti Ali dimana ia mengajukan
pertanyaan dan mohon penjelasan secukupnya mengenai beberapa hal.
Oleh Menteri Agama diserahkan kepada Prof. Dr.H. Abdul Malik Karim
Amrullah (HAKMA) untuk menjawabnya melalui PANJI MASYARAKAT, dengan
pertimbangan agar masalahnya dapat diketahui umum dan manfaatnya telah
merata.
Penulis
Yang pertama sekali hendaklah kita ketahui bahwa Nabi s.a.w
tidaklah meninggalkan anak laki-laki. Anaknya yang laki-laki yaitu
Qasim, Thaher, Thaib, dan Ibrahim meninggal di waktu kecil belaka.
Sebagai seorang manusia yang berperasaan halus, beliau ingin mendapat
anak laki-laki yang akan menyambung keturunan (Nasab) beliau hanya
mempunyai anak-anak perempuan, yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum dan
Fathimah. Zainah memberinya seorang cucu perempuan. Itupun meninggal
dalam sarat menyusu. Ruqayyah dan Ummu Kaitsurr mati muda. Keduanya
isteri Usman bin Affan, meninggal Ruqayyah berganti Ummu Kaltsum (ganti
tikar), ketiga anak perempuan inipun meninggal dahulu dari beliau.
Hanya Fathimah yang meninggal kemudian dari beliau dan hanya dia
pula yang memberi beliau cucu laki-laki. Suami Fahimah adalah Ali Bin
Abi Thalib. Abu Thalib adalah abang dari ayah Nabi dan yang mengasuh
Nabi sejak usia 8 tahun. Cucu laki-laki itu ialah Hasan dan Husain.
Maka dapatlah kita merasakan, Nabi seorang manusia mengharap anak-anak
Fathimah inilah yang akan menyambung turunannya. Sebab itu sangatlah
kasih sayang dan cinta beliau kepada cucu-cucunya ini. Pernah beliau
sedang ruku si cucu masuk ke dalam kedua celah kakinya. Pernah sedang
beliau Sujud si cucu berkuda ke atas punggungnya. Pernah sedang beliau
khutbah, si cucu sedang ke tingkat pertama tangga mimbar.
Al-Tarmidzi merawjkan dari Usamah Bin Zaid bahwa dia (Usamah)
pernah melihat Hasan dan Husain berpeluk di atas kedua belah paha
beliau. Lalu beliau s.a.w. berkata: Kedua anak ini adalah anakku, anak
dari anak perempuanku. Ya Tuhan Aku sayang kepada keduanya”.
Dan diriwayatkan oleh Bukhari dan Abi Bakrah bahwa Nabi pernah pula
berkata tentang Hasan; ‘Anakku ini adalah SAYYID (Tuan), moga-moga
Allah akan mendamaikan tersebab dia diantara dua golongan kaum Muslimin
yang berselisih.
Nubuwat beliau itu tepat. Karena pada tahun 60 hijriah Hasan
menyerahkan kekuasaan kepada Mu’awiyah, karena tidak suka melihat darah
kaum Muslimin tertumpah. Sehingga tahun 60 itu dinamai “Tahun
Persatuan”. Pernah pula beliau berkata: “kedua anakku ini adalah SAYYID
(Tuan) dan pemuda-pemuda di surga kelak”.
Barangkali ada yang bertanya: “Kalau begitu jelas bahwa Hasan dan Husain itu cucunya, mengapa dikatakannya anaknya”.
Ini adalah pemakaian bahwa pada orang Arab, atau bangsa-bangsa
Semit. Di dalam Al-Qur’an surat ke-12 (Yusuf) ayat 6 disebutkan bahwa
Nabi Yakub mengharap moga-moga Allah menyempurnakan ru’matnya kepada
puteranya Yusuf” sebagai mana telah disempurnakanNya ni’mat itu kepada
kedua bapamu sebelumnya, yaitu Ibrahim dan Ishak. Pada hal yang bapa,
atau ayah dari Yusuf adalah Ya’kub. Ishak adalah neneknya dan ibrahim
adalah nenek ayahnya. Di ayat 28 Yusuf berkata:
Bapa-Bapaku Ibrahim dan Ishak dan Ya’kub. Artinya nenek-nenek
moyang disebut bapa, dan cucu cicit disebut anak-anak. Menghormati
keinginan Nabi yang demikian, maka seluruh umat Muhammad menghormati
mereka. Tidakpun beliau anjurkan, namun kaum Quraisy umumnya dan Bani
Hasyim dan keturunan hasan dan Husain mendapat kehormatan istimewanya
di hati kaum Muslimin.
Bagi ahlis-sunnah hormat dan penghargaan itu biasa saja. Keturunan
Hasan dan Husain di panggilkan orang SAYYID; kalau untuk banyak SADAT.
Sebab Nabi mengatakan “Kedua anakku ini menjadi SAYYID (Tuan) dari
pemuda-pemuda di syurga; Disetengah negeri di sebut SYARIF, yang
berarti orang mulia atau orang berbangsa; kalau banyak ASYRAF. Yang
hormat berlebih-lebihan, sampai mengatakan keturunan Hasan dan Husain
berlebih-lebihan, sampai mengatakan keturunan Hasan dan Husain itu
tidak pernah berdosa, dan kalau berbuat dosa segera diampuini. Allah
adalah ajaran (dari suatu aliran – penulis) kaum Syi’ah yang
berlebih-lebihan.
Apatah lagi di dalam Al-Qur’an, surat ke-33 “Al-Ahzab”, ayat 30,
Tuhan memperingatkan kepada isteri-isteri Nabi bahwa kalau mereka
berbuat jahat, dosanya lipat ganda dari dosa orang kebanyakan. Kalau
begitu peringatan Tuhan kepada isteri-isteri Nabi, niscaya demikian
pula kepada mereka yang dianggap keturunannya.
MENJAWAB pertanyaan tentang benarkah Habib Ali Kwitang dan Habib
Tanggul keturunan Rasulullah s.a.w ? Sejak zaman kebesaran Aceh telah
banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke tanah air
kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, Kepulauan Indonesia dan
Philipina. Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam di
seluruh Nusantara ini. Penyebar Islam dan Pembangunan Kerajaan Banten
dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang dipernankan di Aceh. Syarif
Kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanao dan Sulu.
Sesudah pupus keturunan laki-laki dari Iskandar Muda Mahkota Alam
pernah Bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail jadi Raja di Aceh. Negeri
Pontianak pernah diperintah bangsa Sayid Al-Qadri. Siak oleh keluarga
bangsa Sayid bin Syahab.
Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa Sayid Jamalullail. Yang
dipertuan Agung III Malaysia Sayid Putera adalah Raja Perlis. Gubernur
Serawak yang sekarang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang ialah dari
keluarga Alaydrus. Kedudukan mereka di negeri ini yang turun-temurun
menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam.
Kebanyakan mereka jadi Ulama. Mereka datang dari Hadramautdari
keturunan Isa Al-Muhajir dan Faqih Al-Muqaddam. Mereka datang kemari
dari berbagai keluarga. Yang kita banyak kenal ialah keluarga Alatasa.
Assagaf,Alkaf, Bafaqih, Balfaqih, Alaydrus, bin Syekh Abubakar, Assiry,
Al-Aidid, Al Jufri, Albar, Almussawa, Ghatmir, bin Agil, Alhadi,
Basyarban, Bazzar;ah. Bamakhramah. Ba;abud. Syaikhan, Azh-Zhahir, bin
Yahya dan lain-lain. Yang menurut keterangan Almarhum Sayid Muhammad
Bin Abdurrahman bin Syahab telah berkembang jadi 199 keluarga besar.
Semuanya adalah dari “Ubaidillah Bin Ahmad Bin Isa Al-Muhajir. Ahmad
Bin isa Al-Muhajir Ilallah inilah yang berpindah dari Basrah ke
Hadhramaut. Lanjutan silsilahnya ialah Ahmad Bin Isa Al Muhajir Bin
Muhammad Al-Naqib bin Ali Al-Aridh Bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad
Al-Baqir Bin Ali Zainal Abidin Bin Husain As-Sibthi Bin Al Bin Abi
Thalib. As-Sabthi artinya cucu, karena Husain adalah anak dari
Fathurmah binti Rasulullah s.a.w
Sungguhpun yang terbanyak adalah keturunan Husain dari hadhramaut
itu, ada juga yang keturunan Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan
Syarif-syarif Makkah Abi Numay, tetapi tidak sebanyak dari Hadramaut.
Selain dipanggilkan Tuan Sayid, mereka dipanggil juga HABIB, di Jakarta
dipanggilkan WAN. Di Sarawak dan Sabbah disebut Tuanku. Di Pariaman
(Sumatera Barat) disebut SIDI. Mereka telah tersebar di seluruh dunia.
Di negeri-negeri besar sebagai Mesir, Baghdad, Syam dan lain-lain mereka
adalah NAQIB yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan
keturunan-keturunan itu. Di saat sekarang umumnya telah mencapai
36.37.38 silsilah sampai kepada Sayidina Ali dan Fathimah.
Dalam pergolakan aliran lama dan aliran baru di Indonesia, pihak
al-Irsyad yang menandatang dominasi kaum Baalwi menganjurkan agar yang
menganjurkan agar yang bukan keturunan Hasan dan Husain memakai juga
titel Sayid dimuka namanya. Gerakan ini sampai menjadi panas. Tetapi
setelah keturunan Arab Indonesia bersatu, tidak pilih keturunan Alawy
atau bukan, dengan pimpinan A.R Baswedan, mereka anjurkan menghilangkan
perselisihan dan masing-masing memanggil temannya dengan “Al-Akh”,
artinya Saudara.
Maka baik Habib Tanggul di Jawa Timur dan Almarhum Habib Ali di
Kwitang Jakarta, memanglah mereka keturunan dari Ahmad Bin Isa
Al-Muhajir yang berpindah dari Bashrah ko Hadramaut itu, dan Ahmad Bin
Isa tersebut adalah cucu tingkat ke-6 dari cucu Rasulullah Husain Bin
Ali Bin Abi Thalib itu. Kepada keturunan-keturunan itu semuanya kita
berlaku hormat, dan cinta, yaitu hormat dan cinta orang Islam yang
cerdas, yang tahu harga diri. Sehingga tidak diperbodoh oleh
orang-orang yang menyalahgunakan keturunannya itu. Dan mengingat juga
akan sabda Rasulullah s.a.w.: janganlah sampai orang lain datang
kepadakua dengan amalnya, sedang kamu datang kepadaku dengan membawa
nasab dan keturunan kamu, dan pesan beliau pula kepada puteri
kesayangannya, Fathimah Al-Batul, ibu dari cucu-cucu itu: “Hai Fathimah
binti Muhammad. Beramallah kesayanganku. Tidaklah dapat aku, ayahmu
menolongmu dihadapan Allah sedikitpun”. Dan pernah beliau bersabda:
“Walaupun anak kandungku sendiri, Fathimah, jika dia mencuri aku potong
juga tangannya”.
Sebab itu kita ulangilah seruan dari seorang anak ulama besar Alawy
yang telah wafat di Jakarta ini, yaitu Sayid Muhammad Bin Abdurrahman
Bin Syahab, agar generai-generasi yang datang kemudian dari turunan
“Alawy memegang teguh Agama Islam, menjaga pusaka nenek-moyang, jangan
sampai tenggelam kedalam peradaban Barat. Seruan beliau itupun akan
telah memelihara kecintaan dan hormat Ummat Muhammad kepada mereka.
Sekian dulu share tentang Habib Syech Abdul Qodir Assegaf dan AHBAABUL MUSTHOFA PURWOREJO
Shollu'alan Nabi Muhammad ..........
http://pamujiblogs.blogspot.com/2013/06/ahbaabul-musthofa-purworejo.html
Wassalamu'alaikum wr.wb